Kenapa Martabak Toblerone dan Nutella Populer?

May 7, 2014 in food

Review makanan yang beragam sebenarnya merupakan pertanda bahwa makanan tersebut banyak diburu oleh penikmat wisata kuliner. Martabak Pecenongan salah satunya. Tren Martabak Toblerone dan Nutella yang tiba-tiba meledak, membuat tempat kuliner malam hari yang beralamat di Jl. Pecenongan Raya No.65A ini banyak diburu pengunjung. Bahkan sudah bukan suasana yang aneh lagi bila kita tiba di sana dan harus mengantre hanya demi menikmati sekotak martabak yang masih panas dan lezat. Pertanyaan pertama kita, sebenarnya dari mana datang ide pembuatnya mengolah Martabak menggunakan cokelat Toblerone dan selai Nutella ini?

Toblerone sendiri merupakan merek cokelat batangan berbentuk segitiga yang dibanderol harga cukup mahal di supermarket. Sementara Nutella merupakan merek selai hazelnut yang sudah banyak dikonsumsi banyak orang. Karena menggunakan komposisi dari makanan bermerek, sebenarnya bisa saja martabak manis ini jadi sepi peminat. Namun sebaliknya, yang terjadi pada martabak di kawasan Pecenongan malah dibanjiri pelanggan.

Ide memadupadankan Toblerone pada martabak sendiri menurut Agustinus, sang pemilik datang secara tidak sengaja. Ide tersebut datang dari seorang pengunjung yang kebetulan membawa Toblerone dan meminta Agustinus membubuhi martabak buatannya dengan cokelat bermerek asal Swiss tersebut. Iseng-iseng, Agustinus pun mencoba resep serupa menggunakan Toblerone pada pengunjung lain. Tidak diduga, responsnya membludak.

Padahal untuk sekotak martabak Pecenongan, pengunjung harus menyiapkan kocek  mulai dari 50.000-150.000. Tentu bukanlah harga yang murah untuk sebuah sajian yang hanya dinikmati saat santai di malam hari. Agustinus sendiri menjelaskan, rahasia kelezatan martabak yang dibuatnya lantaran bahan-bahan yang ia gunakan berkualitas dan dibuat secara istimewa. Namun sebenarnya bagaimana dari sudut pandang kita sendiri sebagai pengunjung? Apa sebenarnya yang membuat kita tertarik mencicipi martabak Toblerone dan Nutella?

Bisa jadi, menurut saya, ini datang dari fenomena tidak sengaja layaknya saat rainbow cake hits dulu. Sekedar mengingatkan, Rainbow Cake populer lantaran seorang mahasiswi 21 tahun bernama Kaitlin Flanner yang ingin membuat resep kue pelangi untuk hadiah temannya yang berulang tahun. Karena temannya sangat menyukai pelangi, maka ia membuat kue dengan corak warna-warni yang kini gandrung disebut Rainbow Cake. Teman-teman Kaitlin yang menyukai kue tersebut lalu mengedarkan foto tersebut melalui media seperti blog dan social media. Lama kelamaan, Rainbow Cake-nya terkenal ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Ya, sungguh tidak sengaja dan tidak diduga. Sama seperti Rainbow Cake,  awal popularitas Martabak Toblerone bisa saja karena ulah iseng seseorang mem-posting foto Martabak Toblerone yang ia nikmati melalui Instagram atau Twitter-nya. Foto itu kemudian menarik perhatian banyak orang, merangkul banyak pengunjung yang kemudian tertarik mendatangi warung Pecenongan milik Agustinus. Tidak cukup dengan itu, review makanan tentang martabak pun jadi beragam. Di satu sisi ada yang bilang enak, di sisi lain ada yang bilang Martabak Toblerone dan Nutella-nya overrated dan biasa-biasa saja. Secara tidak langsung, review atau komentar-komentar ini malah membuat pengunjung yang belum pernah merasakan jadi penasaran dan ujung-ujungnya juga ikut mencoba.  Menurut saya itulah alasan kenapa kemudian kita semua jadi tertarik mencoba dan voila! membuat nama Martabak Toblerone dan Nutella serentak jadi populer.

kuliner indonesia

review makanan

review makanan

Print Friendly, PDF & Email

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar